Di Entelemi.com, kita sering berdiskusi tentang angka: Dry Matter Intake, formulasi protein kasar, hingga hitungan cost-per-gain. Data adalah raja. Namun, ada satu variabel dalam interaksi manusia dan hewan yang sering luput dari kalkulator: Kepekaan (Sense).
Beberapa tahun terakhir, di sela aktivitas reklamasi lahan dan manajemen stockpile pakan, saya menekuni disiplin yang menuntut sinkronisasi total antara dua makhluk hidup berbeda spesies: Equestrian Show Jumping, bersama Equestrain Team (Borneo Team saat di Kalimantan, DHL dan MPS saat di Jawa).
Bagi mata awam, ini mungkin terlihat sebagai sekadar olahraga atau gaya hidup. Namun bagi saya, arena pasir show jumping adalah laboratorium mental.
1. Manajemen “Micro-Signals” Di atas punggung kuda, saat menghadapi rintangan vertikal, kita tidak bisa memerintah dengan kasar. Kita berkomunikasi lewat micro-signals—tekanan betis sekian milimeter, pergeseran titik berat badan, dan kestabilan tangan. Kuda merespons apa yang kita rasakan, bukan hanya apa yang kita perintahkan.
Filosofi ini sejatinya linier dengan Manajemen Ruminansia. Peternak yang “ahli” tidak menunggu ternak sakit parah baru bertindak. Ia membaca micro-signals: perubahan nafsu makan, kilau bulu yang meredup, atau cara ternak berdiri. Kepekaan di arena latih tanding melatih insting diagnosa saya di kandang koloni.
2. Disiplin Eksekusi: “The Stride” Dalam show jumping, keberhasilan melompati rintangan ditentukan jauh sebelum lompatan itu terjadi—yaitu pada pengaturan langkah (stride) dan tempo menuju rintangan. Salah hitung langkah, rintangan runtuh.
Ini adalah cerminan sempurna dari Integrated Farming. Panen yang sukses atau ternak yang gemuk bukan hasil kerja semalam, melainkan akumulasi dari “langkah” yang disiplin: persiapan lahan yang benar, pemilihan bibit rumput yang tepat, dan formulasi pakan yang presisi sejak hari pertama. Tidak ada jalan pintas.
Equestrian Team & Etos Profesional Bergabung dengan Equestrian Team mengajarkan saya bahwa standar tinggi itu mutlak. Di tim ini, safety, kesejahteraan hewan (animal welfare), dan presisi teknik adalah harga mati. Nilai-nilai ini pula yang saya injeksikan ke dalam SOP setiap program pemberdayaan dan manajemen agribisnis yang saya tangani.
Jadi, ketika saya berbicara tentang “Beternak dengan Ilmu”, itu bukan hanya soal teori buku. Itu soal memadukan data yang dingin dengan intuisi yang hangat—baik saat menghadapi sapi di padang penggembalaan, maupun saat memacu kuda menuju rintangan terakhir.
Oegeng Entelemi






Tinggalkan komentar