
Sering sekali saya bertemu kejadian seperti ini di lapangan:
Seorang peternak baru saja panen sapi atau domba. Wajahnya sumringah. “Alhamdulillah Pak Oegeng, sapi laku 22 juta! Dulu belinya cuma 15 juta. Untung 7 juta di tangan!”
Sekilas, hitungannya masuk akal. Beli 15, jual 22, selisih 7. Matematika anak SD pun bilang itu untung.
Tapi, masalah mulai muncul ketika dia mau belanja bakalan (bibit) lagi. Uang hasil penjualan tadi entah kenapa rasanya “menguap”. Pas mau beli sapi dengan kualitas yang sama, ternyata uangnya pas-pasan, atau malah harus nombok.
Lho, katanya untung 7 juta? Kok uangnya tidak berbekas?
Di sinilah jebakan terbesar peternak pemula (bahkan yang sudah tahunan): Gagal Menghitung HPP (Harga Pokok Produksi).
Mari kita bedah secara “masuk akal”, kenapa untung 7 juta tadi sebenarnya semu, atau bahasa kasarnya: buntung.
Jebakan “Tenaga Gratis”
Kesalahan pertama dan yang paling fatal adalah menganggap tenaga sendiri itu gratis.
“Ah, yang ngarit kan saya sendiri, yang bersihin kandang saya sendiri. Gak usah dihitung lah.”
Ini pola pikir hobi, bukan bisnis. Bayangkan jika besok Anda sakit dan tidak bisa ke kandang. Anda harus menyuruh tetangga untuk ngarit dan memandikan sapi. Apakah tetangga mau dibayar dengan ucapan terima kasih? Pasti minta upah, kan?
Dalam bisnis peternakan yang benar, keringat Anda wajib divaluasi dengan Rupiah.
Jika Anda memelihara 3 bulan, dan setiap hari Anda habiskan 2 jam untuk merawat ternak, itu ada nilainya. Kalau tidak dihitung, Anda sebenarnya tidak sedang berbisnis untung, Anda hanya sedang “kerja bakti” pada sapi Anda sendiri.
Komponen Hantu (Invisible Cost)
Selain tenaga kerja, ada biaya-biaya kecil yang sering dianggap angin lalu tapi kalau dikumpul bisa jadi tornado.
- Penyusutan Kandang: Kandang itu ada umurnya. Atap bocor perlu diganti, lantai semen terkikis. Kalau tidak menyisihkan uang sewa untuk kandang (walau kandang sendiri), nanti saat kandang rusak, Anda harus merogoh kocek pribadi lagi.
- Operasional Kecil: Bensin motor untuk cari rumput, pulsa untuk menghubungi blantik/dokter hewan, bahkan karung bekas pakan. Seringnya uang ini diambil dari dompet dapur, bukan kas kandang. Akibatnya? HPP terlihat rendah, padahal dompet pribadi yang “berdarah”.
Coba Hitung Ulang (Simulasi Kasar)
Mari kita kembali ke Bapak yang merasa untung 7 juta tadi. Dia pelihara selama 4 bulan.
- Margin Kotor: Rp 7.000.000
- Biaya Pakan Tambahan (Konsentrat dll): Rp 2.000.000 (Okelah ini biasanya dicatat).
- Sisa: Rp 5.000.000.
Nah, sekarang masukkan biaya “hantu” tadi:
- Tenaga Kerja: Anggaplah upah minimum harian Rp 25.000 x 120 hari = Rp 3.000.000.
- Bensin & Listrik Air: Rp 500.000 selama 4 bulan.
- Obat & Vitamin: Rp 200.000.
- Sewa Kandang (Penyusutan): Rp 300.000.
Total Biaya Tersembunyi: Rp 4.000.000.
Keuntungan Bersih Sebenarnya: Rp 5.000.000 (Sisa awal) – Rp 4.000.000 (Biaya hantu) = Rp 1.000.000.
Untung bersihnya cuma 1 juta rupiah untuk kerja keras selama 4 bulan! Kalau dibagi per bulan, gajinya cuma Rp 250.000.
Apakah ini layak? Mungkin lebih untung jualan cilok di depan SD daripada capek-capek ngarit.
Jadi, Peternakan Itu Rugi?
Bukan rugi, tapi salah hitung.
Peternakan yang masuk akal tidak takut dengan angka. Dengan mengetahui HPP yang real, Anda jadi punya strategi:
- Anda tahu persis di harga berapa minimal sapi harus dijual agar tenaga Anda terbayar layak.
- Anda jadi lebih teliti memilih pakan (cari yang efisien, bukan asal murah).
- Anda tidak akan foya-foya saat menerima uang tunai hasil panen, karena tahu sebagian besar uang itu adalah modal putar, bukan keuntungan.
Mulai hari ini, cobalah jujur pada catatan keuangan kandang Anda. Jangan biarkan lelah Anda tidak dihargai. Karena pada akhirnya, peternakan harus menghidupi peternaknya, bukan peternak yang menghidupi ternaknya.
Salam Entelemi


Tinggalkan komentar