Fase Hidup Pokok (Maintenance): Fondasi yang Menentukan Semua Produksi
Hampir setiap kali peternakan dibicarakan, arah percakapan jarang jauh dari satu kata: produksi. Bobot badan, pertumbuhan cepat, susu banyak, anak lahir besar. Semua itu wajar. Tetapi justru karena terlalu sering dibicarakan, kita sering lupa menanyakan satu hal yang jauh lebih mendasar: apakah ternaknya sendiri sudah benar-benar hidup dalam kondisi yang aman?
Pertanyaan ini jarang muncul karena jawabannya tidak terlihat secara kasat mata. Tidak ada angka produksi, tidak ada grafik panen, tidak ada hasil instan. Namun di situlah letak persoalannya. Dalam ilmu nutrisi ternak, fase yang paling menentukan justru sering adalah fase yang tampak “tidak menghasilkan apa-apa”, yaitu fase hidup pokok atau maintenance.
Artikel ini secara khusus membahas fase maintenance bukan sebagai pengantar singkat, tetapi sebagai fondasi biologis. Sebab seluruh sistem produksi—bunting, menyusui, pertumbuhan—selalu berdiri di atas fase ini, apakah kita menyadarinya atau tidak.

Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan Hidup Pokok?
Dalam istilah nutrisi ternak, maintenance adalah kondisi ketika tubuh ternak hanya berusaha mempertahankan dirinya. Tidak sedang tumbuh, tidak bunting, tidak menyusui. Tubuh bekerja penuh, tetapi tidak ada tambahan output produksi.
Energi dari pakan digunakan untuk hal-hal yang tidak pernah berhenti sejak ternak hidup: jantung berdetak, paru-paru bekerja, sistem saraf aktif, suhu tubuh dijaga tetap stabil. Protein dipakai untuk mengganti jaringan tubuh yang secara alami rusak dan diperbarui setiap hari. Mineral dan air memastikan semua reaksi kimia di dalam tubuh berjalan normal.
Kalau dianalogikan, maintenance adalah biaya hidup biologis. Sama seperti manusia, sebelum bicara menabung atau berinvestasi, biaya hidup harus dibayar penuh terlebih dahulu. Dalam konteks ternak, produksi baru bisa terjadi setelah kebutuhan hidup pokok ini benar-benar aman.
Mengapa Banyak Ternak Terlihat “Sudah Dikasih Makan” Tapi Tetap Tidak Optimal?
Di lapangan, kecukupan pakan sering dinilai dari satu hal sederhana: ternak mau makan. Selama palung habis dan ternak tidak langsung kurus, pakan dianggap cukup. Padahal tubuh ternak memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap kekurangan.
Ketika asupan energi sedikit di bawah kebutuhan hidup pokok, tubuh tidak langsung menunjukkan tanda bahaya. Ia diam. Ia menyesuaikan diri. Cadangan lemak mulai dipakai sedikit demi sedikit. Jika defisit berlanjut, jaringan otot menyusul. Proses ini berjalan pelan, hampir tidak terasa.
Dalam beberapa minggu, ternak masih tampak normal. Dalam satu atau dua bulan, bobot mulai stagnan. Beberapa bulan kemudian, masalah mulai muncul: ternak sulit bunting, cepat kurus, respons terhadap pakan tambahan lambat, dan produksi tidak pernah sesuai harapan.
Masalahnya bukan karena pakan sama sekali tidak ada, tetapi karena maintenance tidak pernah benar-benar tercapai.
Maintenance Bukan Fase “Kosong”, Tapi Fase Bertahan
Kesalahpahaman lain yang sering terjadi adalah menganggap maintenance sebagai fase ringan yang bisa dihemat. Padahal, secara biologis, ini adalah fase di mana tubuh ternak bekerja keras untuk menjaga keseimbangan internal.
Yang membedakan maintenance dari fase produksi bukan tingkat kerjanya, tetapi arah penggunaan energi. Pada maintenance, semua energi habis untuk bertahan. Tidak ada sisa untuk menghasilkan sesuatu yang bisa kita lihat.
Di sinilah sering terjadi kekecewaan. Pakan ditambah, tetapi hasil tidak langsung terlihat. Padahal, tambahan pakan itu sebenarnya sedang menutup kekurangan lama yang selama ini tidak disadari. Produksi memang belum naik, tetapi tubuh baru saja keluar dari zona defisit.
Karena itu penting dipahami satu prinsip sederhana:
pakan produksi tidak akan bekerja jika pakan hidup pokok belum beres.
Apa Dampaknya Jika Maintenance Tidak Pernah Aman?
Jika kebutuhan hidup pokok tidak pernah terpenuhi secara konsisten, tubuh ternak hidup dalam kondisi defisit kronis. Bukan defisit besar yang langsung menjatuhkan, tetapi defisit kecil yang terus-menerus.
Dampaknya muncul pelan-pelan. Kondisi tubuh menurun sedikit demi sedikit. Sistem kekebalan melemah. Ternak lebih sensitif terhadap stres lingkungan. Ketika masuk fase bunting atau menyusui, tubuh sudah tidak punya cadangan yang cukup untuk dibagi.
Sebaliknya, maintenance yang berlebihan juga bukan solusi. Memberi pakan jauh di atas kebutuhan hidup pokok pada fase ini hanya menambah biaya tanpa manfaat biologis nyata. Bahkan, kondisi tubuh yang terlalu gemuk bisa menimbulkan masalah baru pada fase reproduksi.
Karena itu, maintenance bukan soal “sebanyak mungkin”, tetapi soal tepat dan stabil.

Memahami Maintenance dengan Data, Bukan Perasaan
Perbedaan mendasar antara fase maintenance dan fase produksi dapat diringkas sebagai berikut:
| Aspek | Maintenance | Produksi |
|---|---|---|
| Tujuan | Menjaga fungsi hidup | Menghasilkan output |
| Jaringan tubuh | Dipertahankan | Dibangun / dikuras |
| Respons pakan tambahan | Rendah | Tinggi (jika maintenance aman) |
| Risiko utama | Erosi kondisi tubuh | Penurunan hasil |
Tabel ini membantu melihat bahwa maintenance bukan versi “produksi ringan”, melainkan kategori biologis yang berbeda. Selama ternak masih berada di fase bertahan, tubuh tidak akan merespons pakan tambahan dengan produksi.
Berapa Sebenarnya Kebutuhan Hidup Pokok?
Secara ilmiah, kebutuhan energi hidup pokok domba dewasa berada pada kisaran 0,42–0,48 MJ energi metabolis (ME) per kg bobot badan^0,75 per hari. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi mengikuti metabolisme, bukan bobot badan secara lurus.
| Bobot Badan (kg) | Kebutuhan ME (MJ/hari) |
|---|---|
| 30 | 5,4 – 6,1 |
| 35 | 6,0 – 6,9 |
| 40 | 6,7 – 7,6 |
| 45 | 7,3 – 8,3 |
Tabel ini bukan dimaksudkan untuk menghitung sampai dua angka desimal, melainkan untuk menyadarkan bahwa kebutuhan biologis sering lebih tinggi dari yang kita bayangkan secara visual.
Membaca Maintenance di Kandang
Maintenance yang aman jarang ditandai oleh satu indikator tunggal. Ia dibaca dari pola yang konsisten. Bobot badan stabil selama satu hingga dua bulan, kondisi tubuh tidak menurun, nafsu makan normal, dan respons terhadap pakan tambahan mulai terasa.
Sebaliknya, jika bobot perlahan turun, bulu kusam, atau ternak tampak selalu lapar tanpa perbaikan kondisi, itu pertanda bahwa pakan belum benar-benar menutup kebutuhan hidup pokok.
Di fase inilah pencatatan sederhana—bobot, kondisi tubuh, konsumsi pakan—jauh lebih berharga daripada intuisi.
Pendekatan Pakan Maintenance di Lapangan
Dalam praktik di Indonesia, kebutuhan maintenance sering kali bisa dipenuhi tanpa formulasi rumit. Kuncinya bukan pada bahan tertentu, tetapi pada kecernaan dan kecukupan energi.
Hijauan tua dengan serat kasar tinggi sering terlihat banyak, tetapi miskin energi tercerna. Sebaliknya, hijauan lebih muda, leguminosa, atau hijauan fermentasi sering memberikan hasil lebih baik meski volumenya tidak berlebihan.
Pendekatan maintenance seharusnya fleksibel, menyesuaikan kondisi lokal, tetapi selalu dievaluasi dari respons ternak, bukan dari asumsi bahwa “sudah dikasih makan”.
Mengapa Maintenance Harus Diamankan Lebih Dulu?
Semua fase berikutnya—bunting, menyusui, pemulihan—selalu dibangun di atas maintenance. Jika fondasi ini rapuh, strategi apa pun di fase selanjutnya hanya akan menjadi tambal sulam.
Karena itu, dalam sistem nutrisi yang sehat, maintenance bukan fase kosong. Ia adalah fase kesiapan biologis.
Penutup: Produksi Selalu Dimulai dari Stabilitas
Peternakan yang berkelanjutan tidak dibangun dari lonjakan produksi sesaat, tetapi dari stabilitas biologis yang dijaga dengan sadar. Maintenance adalah bentuk paling dasar dari stabilitas itu. Ia tidak memberi hasil cepat, tetapi tanpanya, tidak ada hasil yang benar-benar bertahan.
Memahami fase hidup pokok adalah langkah pertama untuk berhenti menebak dan mulai mengelola ternak dengan penuh kesadaran.
Salam Entelemi
Berhenti menebak, mulai mencatat
Pustaka
NRC. 2007. Nutrient Requirements of Small Ruminants. National Academies Press.
INRA. 2018. Feeding System for Ruminants. Wageningen Academic Publishers.
Van Soest, P.J. 1994. Nutritional Ecology of the Ruminant. Cornell University Press.
McDonald et al. 2011. Animal Nutrition. Pearson.
Forbes, J.M. 2007. Voluntary Food Intake in Farm Animals. CABI.
Leng, R.A. 1990. Utilization of Poor-Quality Forages. Nutrition Research Reviews.


Tinggalkan komentar