Seri Teknis Pakan Ternak
Jika fase hidup pokok adalah fondasi, maka fase bunting adalah awal dari seluruh rangkaian produksi yang sesungguhnya. Sayangnya, justru pada fase inilah banyak keputusan pakan diambil secara paling pasif. Selama ternak terlihat “baik-baik saja”, pakan dibiarkan berjalan seperti biasa. Tidak ada koreksi berarti. Tidak ada perubahan strategi.
Masalahnya, tubuh ternak tidak pernah pasif selama bunting. Ia bekerja diam-diam, membagi nutrisi, mengatur hormon, dan menyiapkan dua kehidupan sekaligus: dirinya sendiri dan janin yang tumbuh di dalamnya. Banyak masalah produksi yang muncul setelah melahirkan—anak kecil, induk kurus, susu rendah—sebenarnya bukan kesalahan fase laktasi, melainkan akumulasi keputusan pakan selama bunting.
Karena itu, memahami fase bunting bukan soal menunggu kelahiran, tetapi soal membaca apa yang sedang dipersiapkan tubuh induk jauh sebelum hasilnya terlihat.

Apa yang Berubah di Tubuh Induk Ketika Bunting?
Begitu kebuntingan terjadi, tubuh induk langsung masuk ke mode fisiologis yang berbeda. Sistem hormonal berubah, aliran nutrisi mulai diprioritaskan ke rahim, dan tubuh mulai “mengunci” sebagian cadangan energi untuk memastikan keberlangsungan janin. Namun perubahan ini tidak langsung terlihat dari luar.
Pada awal bunting, janin masih sangat kecil. Beban tambahan bagi induk relatif ringan. Inilah alasan mengapa banyak peternak merasa fase ini aman untuk dilewati tanpa penyesuaian pakan. Tetapi justru di sinilah letak jebakannya. Tubuh induk mulai menyusun fondasi metabolik yang akan menentukan apakah ia mampu menghadapi lonjakan kebutuhan di fase berikutnya.
Secara biologis, kebutuhan nutrisi selama bunting tidak naik secara linear, melainkan membentuk kurva. Rendah di awal, meningkat perlahan di tengah, lalu melonjak tajam di akhir. Kesalahan paling umum adalah memperlakukan seluruh fase bunting seolah kebutuhannya sama.
Awal Bunting: Fase yang Terlihat Ringan, Tapi Menentukan Arah
Pada satu hingga dua bulan pertama kebuntingan, kebutuhan nutrisi induk memang belum meningkat drastis. Janin masih kecil, dan sebagian besar energi tetap digunakan untuk kebutuhan hidup pokok induk. Namun pada fase inilah tubuh melakukan penyesuaian hormonal dan metabolik yang sangat penting.
Jika pada fase ini induk sudah berada dalam kondisi hidup pokok yang rapuh—misalnya bobot turun perlahan atau kondisi tubuh pas-pasan—maka tubuh akan mulai mengambil cadangan lebih awal. Defisit kecil ini sering tidak terlihat, tetapi akan “dibawa” ke fase berikutnya.
Tujuan pakan pada awal bunting bukan mengejar produksi, melainkan memastikan bahwa induk memasuki pertengahan bunting dengan kondisi tubuh yang stabil. Induk yang stabil di awal bunting jauh lebih mampu merespons peningkatan kebutuhan nutrisi di fase berikutnya dibanding induk yang sudah defisit sejak awal.
Pertengahan Bunting: Saat Kualitas Mulai Mengalahkan Kuantitas
Memasuki bulan ketiga dan keempat, pertumbuhan janin mulai meningkat lebih cepat. Tubuh induk mulai membagi nutrisi secara lebih aktif antara kebutuhan dirinya dan kebutuhan janin. Pada fase ini, kesalahan pakan mulai menunjukkan dampaknya, meskipun masih sering tidak terlihat jelas.
Hijauan yang volumenya besar tetapi kualitasnya rendah sering menjadi masalah utama. Induk terlihat kenyang, tetapi energi tercerna yang masuk ke tubuh tidak cukup untuk menutup kebutuhan yang mulai naik. Tubuh lalu melakukan kompromi biologis: janin tetap diprioritaskan, sementara kebutuhan induk dipenuhi dari cadangan tubuh.
Kompromi ini bersifat diam-diam. Induk masih tampak normal. Namun cadangan energi mulai terkuras. Jika kondisi ini terus berlangsung hingga akhir bunting, induk akan memasuki fase paling berat dengan modal biologis yang lemah.
Di fase inilah kualitas pakan mulai lebih penting daripada sekadar jumlah. Bukan berarti pakan harus mahal, tetapi harus lebih mudah dicerna dan lebih padat energi.
Akhir Bunting: Fase Kritis yang Paling Sering Salah Ditangani
Akhir bunting adalah fase dengan risiko tertinggi, sekaligus fase yang paling sering disepelekan. Sekitar dua pertiga pertumbuhan janin terjadi pada sepertiga akhir kebuntingan. Artinya, lonjakan kebutuhan energi dan protein terjadi justru ketika waktu semakin sempit.
Pada saat yang sama, ukuran janin yang membesar menekan rumen, sehingga kapasitas konsumsi pakan induk sering menurun. Inilah paradoks biologis yang jarang disadari: kebutuhan naik tajam, tetapi kemampuan makan justru turun.
Banyak peternak keliru membaca kondisi ini. Induk yang terlihat lebih diam dan “penuh” justru dianggap cukup makan, bahkan kadang pakannya dikurangi. Padahal yang dibutuhkan bukan pengurangan, melainkan peningkatan kepadatan nutrisi.
Jika fase ini gagal dikelola:
- anak lahir kecil atau lemah,
- induk kehilangan banyak cadangan tubuh,
- produksi susu awal rendah,
- pemulihan pasca melahirkan berjalan lambat.
Masalah-masalah ini sering disalahkan pada pakan laktasi, padahal akar masalahnya ada di akhir bunting.
Kebutuhan Nutrisi Induk Bunting: Apa Kata Data?
Secara ilmiah, kebutuhan energi induk bunting meningkat seiring umur kebuntingan. Berdasarkan berbagai sistem rujukan nutrisi, kebutuhan energi dapat meningkat:
- sekitar 10–20% di pertengahan bunting,
- dan mencapai 40–60% di akhir bunting dibanding kebutuhan hidup pokok.
Protein juga meningkat, terutama untuk pembentukan jaringan janin dan plasenta. Namun prinsipnya tetap sama seperti fase lain: protein tidak akan efektif jika kebutuhan energi belum terpenuhi. Dalam kondisi energi defisit, protein justru dibakar sebagai sumber energi darurat.
Data ini penting bukan untuk dihafalkan, tetapi untuk dipahami arah logikanya: fase bunting bukan fase datar, melainkan fase dengan akselerasi kebutuhan.
Membaca Fase Bunting di Kandang, Bukan di Buku
Di kandang, fase bunting yang dikelola dengan baik biasanya ditandai oleh kondisi tubuh induk yang relatif stabil hingga mendekati melahirkan. Induk tidak terlihat “jatuh” kondisi secara mendadak. Nafsu makan tetap baik. Respons terhadap pakan berkualitas terlihat jelas.
Sebaliknya, jika induk memasuki akhir bunting dengan kondisi tubuh yang menurun, itu sinyal bahwa fase-fase sebelumnya sudah bermasalah. Koreksi pakan di titik ini masih bisa membantu, tetapi tidak akan pernah seefektif jika dilakukan lebih awal.
Fase bunting adalah fase di mana keputusan yang diambil terlalu terlambat selalu terasa mahal.
Pendekatan Pakan Fase Bunting di Lapangan
Pendekatan pakan selama bunting seharusnya bertahap, bukan reaktif. Di awal bunting, fokus pada stabilitas kondisi tubuh. Di pertengahan bunting, mulai tingkatkan kualitas pakan. Di akhir bunting, fokus pada kepadatan energi dan kecernaan.
Pendekatan ini tidak harus menggunakan bahan pakan mahal. Yang lebih penting adalah menghindari kesalahan klasik: mengandalkan volume hijauan berserat tinggi ketika tubuh justru membutuhkan energi tercerna.
Formulasi pakan di fase bunting seharusnya dilihat sebagai strategi biologis, bukan resep kaku. Evaluasi selalu kembali pada respons induk, bukan pada daftar bahan.
Mengapa Fase Bunting Menentukan Fase Menyusui?
Induk yang melewati fase bunting dengan kondisi tubuh baik akan memasuki fase menyusui dengan cadangan energi yang memadai. Produksi susu awal lebih stabil, penurunan bobot tubuh lebih terkendali, dan pemulihan pasca sapih lebih cepat.
Sebaliknya, induk yang sudah defisit sejak bunting akan memasuki laktasi dalam kondisi tertekan. Pakan laktasi sebaik apa pun hanya akan menutup defisit lama sebelum mendukung produksi.
Karena itu, fase bunting bukan jeda produksi, melainkan fase persiapan produksi.
Penutup: Bunting Bukan Menunggu, Tapi Menyiapkan
Dalam sistem peternakan yang sehat, fase bunting bukan waktu untuk “menunggu lahir”. Ia adalah waktu untuk menyiapkan hasil yang akan muncul beberapa bulan kemudian. Pakan pada fase ini tidak memberi hasil instan, tetapi menentukan apakah fase berikutnya berjalan ringan atau penuh masalah.
Peternak yang memahami ini tidak menunggu masalah muncul di kandang. Ia membaca fase, membaca tubuh ternak, dan menyesuaikan pakan sebelum terlambat.
Salam Entelemi
Berhenti menebak, mulai mencatat.


Tinggalkan komentar