Peternakan & Pemberdayaan yang Masuk Akal
Saya percaya bahwa peternakan, pertanian, dan program pemberdayaan masyarakat tidak harus terlihat besar atau terdengar hebat. Yang jauh lebih penting adalah: bisa dijalani, bisa bertahan, dan memberi dampak nyata dalam jangka panjang.
Di lapangan, banyak usaha ternak dan program PPM gagal bukan karena kurang modal atau kurang niat, tetapi karena tidak dirancang sesuai realitas manusia yang menjalankannya—waktu, tenaga, kemampuan, dan ritme hidupnya.
Saya memilih berdiri di lapangan, bukan di atas kertas.
Bekerja dengan data, bukan asumsi.
Belajar dari kegagalan, bukan menutupinya dengan laporan rapi.
Bagi saya, ternak bukan sekadar komoditas, dan program bukan sekadar serapan anggaran. Keduanya adalah proses panjang yang menuntut manajemen, konsistensi, dan kedewasaan berpikir.
Saya tidak percaya pada pendekatan ikut tren.
Saya percaya pada sistem yang bisa diulang, disesuaikan, dan diwariskan.
Karena itu, setiap usaha ternak dan program pemberdayaan harus menjawab tiga pertanyaan sederhana:
-
Apakah ini masuk akal untuk dijalankan sehari-hari?
-
Apakah manusia di dalamnya mampu bertahan secara fisik dan mental?
-
Apakah dampaknya bisa diukur dan dipertanggungjawabkan?
Jika jawabannya tidak jelas, maka sebaik apa pun konsepnya, ia hanya akan bertahan sebentar.
Saya tidak mengejar program yang terlihat sukses di awal.
Saya memilih proses yang masih hidup setelah pendampingan selesai.
Inilah cara saya bekerja.
Inilah cara saya berpikir.
Dan inilah nilai yang saya bagikan melalui Entelemi.

