Salah satu keluhan paling sering dari peternak adalah soal pakan hijauan: saat hujan berlebih, saat kemarau kekurangan. Padahal, di banyak lokasi, masalah utamanya bukan ketersediaan hijauan—melainkan tidak adanya manajemen berbasis musim.
Peternakan yang masuk akal tidak berharap kondisi selalu ideal. Ia justru dibangun dengan asumsi bahwa musim pasti berubah.
Hijauan Tidak Pernah Benar-Benar Kurang
Di lapangan, hijauan sering melimpah pada musim hujan. Rumput tumbuh cepat, lahan hijau, dan pakan terlihat berlimpah. Namun kelebihan ini sering terbuang karena:
- tidak ada rencana panen hijauan,
- tidak ada kebiasaan menyimpan,
- tidak ada perhitungan kebutuhan ke depan.
Sebaliknya, saat musim kemarau datang, peternak mulai:
- mencari hijauan lebih jauh,
- mengurangi jatah pakan,
- atau membeli pakan tambahan dengan biaya tinggi.
Masalahnya bukan pada rumput, tetapi pada cara mengelola waktu dan volume hijauan.
Prinsip Dasar Manajemen Hijauan Berbasis Musim
Manajemen hijauan yang masuk akal selalu berangkat dari tiga prinsip:
- Musim hujan adalah waktu produksi
Fokus pada menanam, memanen, dan memperbanyak hijauan. - Musim kemarau adalah waktu pemanfaatan cadangan
Bukan waktu panik, tapi waktu menggunakan hasil persiapan. - Hijauan tidak boleh habis di kandang
Harus ada cadangan di luar kandang.
Prinsip ini sederhana, tapi sering diabaikan.
Apa yang Perlu Disiapkan Saat Musim Hujan
Musim hujan adalah fase paling menentukan. Beberapa langkah aplikatif yang bisa dilakukan peternak:
- Menanam hijauan potong (rumput gajah, odot, setaria)
- Menyiapkan hijauan leguminosa (indigofera, lamtoro, turi)
- Memanen hijauan secara teratur, bukan menunggu tua
- Menyisihkan sebagian hasil untuk cadangan, bukan semuanya habis diberikan
Pada tahap ini, tujuan utamanya bukan menambah ternak, tetapi memperkuat stok pakan.
Konservasi Hijauan: Tidak Harus Rumit
Banyak peternak menganggap konservasi pakan itu rumit dan mahal. Padahal, konservasi sederhana sudah sangat membantu.
Beberapa opsi realistis:
- Silase skala kecil (drum, plastik tebal)
- Hay sederhana (pengeringan hijauan)
- Hijauan cincang dan disimpan sementara
Tidak semua harus dilakukan sekaligus. Pilih satu metode yang paling mungkin dijalankan secara konsisten.
Menghadapi Musim Kemarau dengan Tenang
Peternakan yang siap musim kemarau biasanya menunjukkan ciri berikut:
- waktu mencari pakan tidak melonjak drastis,
- ternak tetap mendapat jatah relatif stabil,
- biaya pakan lebih terkendali.
Sebaliknya, peternakan tanpa persiapan akan mulai mengorbankan:
- kualitas pakan,
- kondisi ternak,
- bahkan jumlah ternak.
Kemarau bukan masalah jika musim hujan dimanfaatkan dengan benar.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan lapangan yang sering berulang:
- menunda konservasi karena merasa hijauan masih banyak,
- menambah ternak saat hujan tanpa menyiapkan cadangan,
- mengandalkan beli pakan saat kemarau.
Kesalahan ini jarang terasa langsung, tetapi dampaknya berat dan berlapis.
Intinya
Manajemen hijauan bukan soal teknologi tinggi, tetapi soal disiplin membaca musim.
Peternakan yang masuk akal tidak menunggu kemarau untuk bertindak. Ia bersiap saat hujan.
Kalau hijauan dikelola dengan benar, musim tidak lagi menjadi ancaman—melainkan bagian dari sistem.
Artikel ini merupakan bagian dari seri “Peternakan yang Masuk Akal” di www.entelemi.com.
Artikel selanjutnya akan membahas neraca pakan: cara sederhana menentukan kapan ternak bisa ditambah dan kapan harus ditahan.





Tinggalkan komentar