Bagian 1: Feed Sorting dan Realitas yang Sering Terjadi di Palungan
Ketika Formulasi yang Sempurna Tidak Memberikan Hasil yang Sempurna

Dalam banyak diskusi peternakan, perhatian sering tertuju pada formulasi ransum. Berapa persen protein kasar? Berapa kandungan energi? Apakah kebutuhan mineral sudah terpenuhi? Apakah biaya pakan sudah optimal?
Tidak sedikit peternak yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyusun formulasi terbaik. Bahkan saat ini berbagai aplikasi formulasi pakan dapat membantu menghitung kebutuhan nutrisi secara akurat.
Namun di lapangan sering muncul sebuah pertanyaan yang mengganggu:
“Kalau ransumnya sudah benar, mengapa performa ternak masih belum sesuai target?”
Pertambahan bobot badan harian rendah. Konsumsi pakan tidak stabil. Efisiensi pakan memburuk. Bahkan dalam satu kelompok ternak yang menerima pakan yang sama, terdapat perbedaan performa yang cukup besar.
Ketika kondisi tersebut terjadi, banyak orang langsung menyalahkan formulasi.
Padahal masalahnya belum tentu berada pada formulasi.
Masalahnya bisa saja berada tepat di depan ternak, yaitu di palungan.
Sapi Tidak Membaca Formulasi Pakan
Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sapi tidak pernah membaca formulasi pakan.
Sapi tidak mengetahui bahwa ransum yang diberikan mengandung protein 14%, energi 68% TDN, atau mineral sesuai standar kebutuhan.
Yang diketahui sapi hanyalah apa yang ada di depannya.
Dan yang lebih penting, sapi memiliki kemampuan untuk memilih.
Dalam ilmu nutrisi ruminansia terdapat istilah feed sorting, yaitu perilaku ternak memilih komponen tertentu dari ransum dan meninggalkan komponen lainnya.
Perilaku ini umum ditemukan pada sapi yang diberi Total Mixed Ration (TMR), pakan campuran hijauan-konsentrat, maupun berbagai sistem pemberian pakan lainnya.
Artinya, ransum yang diformulasikan belum tentu sama dengan ransum yang benar-benar dikonsumsi.
Di sinilah banyak masalah bermula.
Apa Itu Feed Sorting?
Feed sorting adalah perilaku seleksi pakan yang dilakukan ternak terhadap partikel atau bahan tertentu dalam ransum.
Bayangkan sebuah ransum terdiri dari:
- Rumput cacah
- Silase
- Jagung giling
- Dedak
- Bungkil kedelai
- Mineral
Secara teori seluruh bahan tersebut sudah tercampur dengan baik.
Namun ketika pakan sampai di palungan, sapi dapat mulai melakukan seleksi.
Mereka cenderung mencari komponen yang lebih disukai dan meninggalkan komponen yang kurang disukai.
Akibatnya, komposisi nutrisi yang masuk ke tubuh sapi menjadi berbeda dari komposisi nutrisi yang dirancang oleh nutrisionis.
Pada banyak penelitian ditemukan bahwa sapi sering memilih partikel yang lebih kecil dan lebih kaya energi, sementara partikel hijauan yang lebih panjang lebih sering tertinggal di palungan.
Secara sederhana:
Ransum yang diformulasikan ≠ Ransum yang dimakan.
Mengapa Sapi Melakukan Feed Sorting?

Sebagian peternak menganggap sapi akan memakan seluruh isi palungan secara merata.
Kenyataannya tidak demikian.
Sapi merupakan hewan yang memiliki preferensi terhadap tekstur, ukuran partikel, kelembapan, aroma, dan palatabilitas pakan.
Beberapa faktor yang sering menyebabkan feed sorting antara lain:
1. Ukuran Partikel Terlalu Berbeda
Perbedaan ukuran partikel yang terlalu besar memudahkan sapi melakukan seleksi.
Hijauan yang terlalu panjang sering kali dipisahkan dari konsentrat dan akhirnya tertinggal di palungan.
Semakin besar variasi ukuran partikel, semakin tinggi peluang feed sorting terjadi.
2. Ransum Terlalu Kering
Kelembapan ransum berperan penting dalam menjaga homogenitas campuran.
Ransum yang terlalu kering membuat partikel mudah terpisah.
Akibatnya sapi lebih mudah memilih jagung, dedak, atau konsentrat tertentu dan meninggalkan komponen lainnya.
3. Pencampuran Tidak Homogen
Tidak semua masalah berasal dari ternak.
Kadang masalah justru berasal dari proses pencampuran.
Mixer yang kurang efektif, urutan pemasukan bahan yang tidak tepat, atau waktu mixing yang terlalu singkat dapat menyebabkan distribusi bahan tidak merata.
Akibatnya setiap suapan yang dimakan ternak memiliki kandungan nutrisi yang berbeda.
4. Palatabilitas yang Berbeda
Beberapa bahan pakan secara alami lebih disukai ternak.
Jagung, molases, atau bahan berkadar energi tinggi umumnya memiliki daya tarik yang lebih besar dibandingkan hijauan berserat kasar.
Ketika kesempatan memilih tersedia, ternak cenderung mengambil komponen yang lebih palatable terlebih dahulu.
Mengapa Feed Sorting Menjadi Masalah?
Sekilas feed sorting terlihat sepele.
Namun dampaknya terhadap performa ternak dapat sangat signifikan.
Ketika sapi terus menerus memilih konsentrat dan meninggalkan serat efektif, keseimbangan fermentasi rumen dapat terganggu.
Serat efektif memiliki peran penting dalam:
- Merangsang aktivitas mengunyah
- Meningkatkan produksi saliva
- Menjaga kestabilan pH rumen
- Mendukung populasi mikroba rumen
Jika konsumsi serat efektif menurun, risiko gangguan fermentasi rumen meningkat.
Dalam jangka panjang kondisi ini dapat menyebabkan:
- Efisiensi pakan menurun
- Konsumsi pakan tidak stabil
- Variasi performa antar ternak meningkat
- Gangguan kesehatan rumen
- Pertumbuhan yang tidak optimal
Yang menarik, masalah ini sering berkembang secara perlahan sehingga tidak langsung disadari peternak.
Tanda-Tanda Feed Sorting di Kandang
Peternak sebenarnya dapat mendeteksi feed sorting tanpa laboratorium dan tanpa alat mahal.
Cukup dengan mengamati palungan secara rutin.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
✅ Banyak serat panjang tertinggal
✅ Konsentrat habis lebih dulu
✅ Bentuk sisa pakan berbeda dengan pakan awal
✅ Terdapat pemisahan bahan yang jelas
✅ Sapi sering mengaduk-aduk pakan menggunakan moncongnya sebelum makan
✅ Variasi performa dalam satu kelompok semakin besar
Jika gejala tersebut sering ditemukan, kemungkinan feed sorting sedang terjadi.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Peternak
Banyak peternak sangat disiplin mencatat:
- Jumlah pakan diberikan
- Harga bahan baku
- Jumlah ternak
- Pertambahan bobot badan
Namun lupa mencatat satu hal penting:
Apa yang tersisa di palungan.
Padahal informasi dari sisa pakan sering kali lebih berharga daripada angka protein pada formulasi.
Sisa pakan dapat menunjukkan apakah:
- Ransum tercampur dengan baik
- Ternak melakukan feed sorting
- Kelembapan ransum sesuai
- Distribusi partikel sudah ideal
Dengan kata lain, palungan sebenarnya merupakan “ruang audit” yang paling jujur dalam sistem pemberian pakan.
Pelajaran Penting yang Sering Terlewat
Dalam peternakan modern, formulasi hanyalah langkah awal.
Keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika nutrisi yang dirancang benar-benar masuk ke tubuh ternak.
Sapi tidak tumbuh karena formulasi yang terlihat bagus di layar komputer.
Sapi tumbuh karena nutrisi yang benar-benar dikonsumsi, dicerna, dan dimanfaatkan oleh tubuhnya.
Karena itu, peternak tidak cukup hanya menjadi ahli menyusun ransum.
Peternak juga harus menjadi pengamat yang baik terhadap perilaku makan ternaknya.
Sering kali perbedaan antara kandang yang sukses dan kandang yang biasa-biasa saja bukan terletak pada kualitas formulasi.
Tetapi pada kemampuan membaca apa yang sebenarnya terjadi di palungan.
Kesimpulan
Ransum yang bagus di kertas belum tentu menghasilkan performa yang bagus di kandang.
Feed sorting, pencampuran yang tidak homogen, kelembapan ransum yang tidak sesuai, dan manajemen palungan yang kurang baik dapat menyebabkan nutrisi yang dimakan ternak berbeda dari nutrisi yang dirancang.
Oleh karena itu, evaluasi pakan tidak boleh berhenti pada formulasi.
Evaluasi harus dilanjutkan hingga ke palungan.
Karena pada akhirnya:
Sapi tidak tumbuh dari formulasi.
Sapi tumbuh dari nutrisi yang benar-benar dimakannya.
Artikel Selanjutnya
Bagian 2: Feed Sorting – Mengapa Sapi Memilih Pakan Tertentu dan Bagaimana Cara Menguranginya?
Pada artikel berikutnya kita akan membahas mekanisme biologis di balik perilaku feed sorting, faktor yang memengaruhinya, serta langkah praktis yang dapat diterapkan peternak Indonesia untuk meminimalkan kerugian akibat seleksi pakan.
Daftar Pustaka
DeVries, T.J., & Von Keyserlingk, M.A.G. 2017. Feed Sorting in Dairy Cattle: Causes, Consequences, and Management. Journal of Dairy Science 100(5): 4172–4183.
DeVries, T.J., Dohme, F., & Beauchemin, K.A. 2010. Effect of Feed Sorting on Chewing Behavior, Production, and Rumen Fermentation in Lactating Dairy Cows. Journal of Dairy Science 93(10): 4791–4803.
Miller-Cushon, E.K., & DeVries, T.J. 2020. Feed Selection and Sorting Behavior in Ruminants: A Review. Animals 10(3): 1–19.
Maulfair, D.D., & Heinrichs, A.J. 2012. Methods to Measure Forage and Diet Particle Size in Dairy Cattle. Professional Animal Scientist 28(5): 489–493.
Heinrichs, A.J. 2013. Penn State Particle Separator Manual. Pennsylvania State University Extension.


Tinggalkan Balasan