Bagian 3 dari Seri: Ransum Bagus di Kertas Belum Tentu Bagus di Kandang
Pendahuluan
Dalam dunia peternakan, perhatian sering tertuju pada kandungan nutrisi pakan.
Berapa protein kasarnya?
Berapa kandungan energinya?
Apakah mineral dan vitaminnya sudah cukup?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting.
Namun ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, padahal pengaruhnya sangat besar terhadap performa ternak.
Faktor tersebut adalah panjang cacahan hijauan.
Banyak peternak menganggap ukuran cacahan hanya berkaitan dengan kemudahan pemberian pakan atau kapasitas mesin chopper.
Padahal ukuran partikel hijauan dapat memengaruhi:
- Konsumsi pakan
- Aktivitas ruminasi
- Produksi saliva
- Stabilitas rumen
- Feed sorting
- Efisiensi pakan
- Pertumbuhan ternak
Dengan kata lain, dua ransum yang memiliki kandungan nutrisi identik belum tentu memberikan hasil yang sama apabila ukuran partikelnya berbeda.

Mengapa Ukuran Partikel Penting?
Sapi tidak mengonsumsi protein, energi, atau serat dalam bentuk angka.
Sapi mengonsumsi bahan pakan yang memiliki karakteristik fisik tertentu.
Karakteristik fisik tersebut meliputi:
- ukuran partikel
- tekstur
- bentuk
- kelembapan
Dalam nutrisi ruminansia modern dikenal istilah Physically Effective Neutral Detergent Fiber (peNDF).
Konsep ini menjelaskan bahwa serat tidak hanya harus ada secara kimiawi, tetapi juga harus memiliki ukuran fisik yang cukup untuk merangsang aktivitas mengunyah dan ruminasi.
Artinya, kandungan NDF yang tinggi belum tentu memberikan manfaat maksimal apabila ukuran partikelnya terlalu kecil.
Apa yang Terjadi Saat Sapi Mengunyah?
Ketika sapi mengunyah dan memamah biak, produksi saliva meningkat.
Saliva berfungsi sebagai buffer alami yang membantu menjaga kestabilan pH rumen.
Rumen yang stabil memungkinkan mikroba bekerja secara optimal dalam:
- mencerna serat
- menghasilkan asam lemak volatil (VFA)
- menyediakan energi bagi ternak
Sebaliknya, ketika aktivitas mengunyah menurun, produksi saliva juga menurun.
Akibatnya kemampuan rumen mempertahankan keseimbangan pH menjadi lebih rendah.
Inilah alasan mengapa ukuran partikel hijauan memiliki hubungan erat dengan kesehatan rumen.
Ketika Hijauan Terlalu Panjang
Banyak peternak beranggapan semakin panjang hijauan semakin baik.
Kenyataannya tidak demikian.
Hijauan yang terlalu panjang meningkatkan peluang terjadinya feed sorting.
Sapi akan lebih mudah:
- memilih konsentrat
- menghindari serat panjang
- memisahkan komponen ransum
Penn State Extension menjelaskan bahwa partikel panjang lebih mudah disortir oleh ternak dan sering ditemukan pada sisa pakan di palungan. Partikel yang terlalu panjang juga dapat menurunkan konsumsi pakan.
Di lapangan kondisi ini sering terlihat ketika:
- konsentrat habis lebih dahulu
- serat panjang menumpuk di palungan
- performa ternak tidak seragam
Ketika Hijauan Terlalu Pendek
Sebaliknya, mencacah hijauan terlalu pendek juga bukan solusi yang ideal.
Partikel yang terlalu kecil mengurangi kemampuan serat untuk merangsang aktivitas mengunyah.
Akibatnya:
- waktu ruminasi menurun
- produksi saliva berkurang
- fungsi buffer rumen menurun
- efektivitas serat berkurang
Penn State Extension melaporkan bahwa ukuran partikel yang terlalu kecil dapat menyebabkan kurangnya aktivitas ruminasi dan menurunkan fungsi rumen secara optimal.
Karena itu tujuan pencacahan bukan sekadar mengecilkan ukuran hijauan.
Tujuannya adalah mencapai keseimbangan.
Berapa Panjang Cacahan Hijauan yang Ideal?
Ini merupakan pertanyaan yang paling sering diajukan peternak.
Jawaban ilmiahnya ternyata tidak sesederhana:
“Potong hijauan sepanjang 5 cm.”
Dalam penelitian modern, kualitas ukuran partikel tidak dinilai menggunakan penggaris, melainkan menggunakan Penn State Particle Separator (PSPS).
PSPS merupakan alat standar yang digunakan untuk mengevaluasi distribusi ukuran partikel hijauan maupun Total Mixed Ration (TMR).
Menurut Penn State, distribusi partikel TMR yang direkomendasikan adalah:
| Ukuran Partikel | Proporsi Ideal |
|---|---|
| >19 mm | 2–8% |
| 8–19 mm | 30–50% |
| 4–8 mm | 10–20% |
| <4 mm | 30–40% |
Distribusi tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara:
- konsumsi pakan
- aktivitas mengunyah
- kesehatan rumen
- risiko feed sorting
Dengan kata lain, tujuan pencacahan bukan mengejar satu angka tertentu, tetapi menghasilkan distribusi partikel yang mendukung fungsi biologis rumen.
Lalu Bagaimana Praktiknya di Indonesia?
Sebagian besar peternak Indonesia tentu tidak memiliki Penn State Particle Separator.
Karena itu diperlukan pendekatan yang lebih praktis.
Berdasarkan prinsip distribusi partikel Penn State, pengalaman lapangan feedlot, serta praktik peternakan ruminansia komersial, kisaran berikut dapat digunakan sebagai pedoman operasional:
| Jenis Ternak | Kisaran Praktis Lapangan |
|---|---|
| Sapi Potong | 3–5 cm |
| Sapi Perah | 2–4 cm |
| Kambing | 2–4 cm |
| Domba | 1–3 cm |
Penting dipahami:
Angka tersebut bukan standar ilmiah baku internasional.
Angka tersebut merupakan pendekatan praktis untuk membantu mencapai distribusi partikel yang mendukung peNDF sekaligus mengurangi feed sorting.
Contoh Nyata di Kandang
Kandang A
Rumput gajah dicacah ±15 cm.
Empat jam setelah pemberian pakan:
- konsentrat habis
- serat panjang masih banyak tersisa
Terjadi feed sorting.
Kandang B
Rumput gajah dicacah ±4 cm.
Empat jam setelah pemberian pakan:
- sisa pakan lebih homogen
- tidak ada dominasi serat panjang
Feed sorting lebih rendah.
Perbedaan beberapa sentimeter tersebut terlihat kecil.
Namun jika terjadi setiap hari selama berbulan-bulan, dampaknya terhadap performa ternak bisa sangat besar.
Cara Mengevaluasi Panjang Cacahan di Kandang
Peternak tidak harus memiliki laboratorium.
Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan.
1. Periksa Sisa Pakan
Apakah serat panjang mendominasi palungan?
Jika ya, ukuran partikel kemungkinan terlalu panjang.
2. Amati Perilaku Makan
Apakah ternak sering mengaduk pakan sebelum makan?
Perilaku tersebut dapat menjadi indikasi feed sorting.
3. Evaluasi Pisau Chopper
Pisau yang tumpul sering menghasilkan ukuran partikel yang tidak seragam.
4. Periksa Keseragaman
Hijauan yang baik bukan hanya pendek.
Hijauan harus memiliki ukuran yang relatif seragam.
Insight Entelemi
Banyak peternak menghabiskan jutaan rupiah untuk memperbaiki formulasi pakan.
Mereka mengganti konsentrat.
Menambah premiks.
Membeli suplemen.
Namun tidak pernah mengevaluasi hasil kerja mesin chopper.
Padahal beberapa sentimeter pada panjang cacahan hijauan dapat menentukan apakah nutrisi yang dirancang benar-benar masuk ke dalam tubuh ternak.
Sering kali masalah bukan terletak pada formulasi.
Masalahnya berada pada ukuran partikel yang ada di palungan.
Kesimpulan
Panjang cacahan hijauan merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi konsumsi pakan, aktivitas mengunyah, kesehatan rumen, dan feed sorting.
Hijauan yang terlalu panjang meningkatkan peluang seleksi pakan.
Hijauan yang terlalu pendek mengurangi efektivitas serat dalam merangsang ruminasi.
Karena itu tujuan pencacahan bukan sekadar mengecilkan ukuran hijauan.
Tujuan utamanya adalah menghasilkan distribusi partikel yang mampu mendukung fungsi biologis rumen sekaligus meminimalkan feed sorting.
Dalam manajemen pakan modern, panjang cacahan hijauan bukan sekadar urusan mesin chopper.
Panjang cacahan adalah bagian dari strategi nutrisi.
Bagian 4 — Kelembapan Ransum: Faktor yang Sering Tidak Pernah Diukur
Daftar Pustaka
Heinrichs, A.J. & Jones, C.M. Penn State Particle Separator. Penn State Extension. Menjelaskan distribusi ukuran partikel hijauan dan TMR yang direkomendasikan serta hubungan ukuran partikel dengan konsumsi dan sorting.
Yost, C. Penn State Particle Size Separator (PSPS). Penn State Extension. Menjelaskan fungsi masing-masing fraksi partikel (>19 mm, 8–19 mm, 4–8 mm, dan <4 mm) dalam kesehatan rumen dan evaluasi pakan.
Lammers, B.P., Buckmaster, D.R., & Heinrichs, A.J. (1996). Development of a Particle Separator for Measuring the Physical Characteristics of Forages.
Kononoff, P.J., Heinrichs, A.J., & Buckmaster, D.R. (2003). Modification of the Penn State Forage and Total Mixed Ration Particle Separator and the Effects of Moisture Content on Its Measurements.
Mertens, D.R. (1997). Creating a System for Meeting the Fiber Requirements of Dairy Cows.


Tinggalkan Balasan