Bagian 4 dari Seri:

Ransum Bagus di Kertas Belum Tentu Bagus di Kandang

Peternakan Sapi Potong

Pendahuluan

Ketika peternak berbicara tentang kualitas pakan, pembahasannya hampir selalu berputar pada:

  • Protein kasar
  • Energi
  • Serat
  • Mineral
  • Vitamin

Namun ada satu parameter yang justru paling sering diabaikan:

Kelembapan ransum.

Padahal dalam praktik lapangan, dua ransum dengan kandungan protein, energi, dan serat yang sama belum tentu menghasilkan performa yang sama.

Salah satu penyebabnya adalah perbedaan kadar air.

Banyak kasus yang dianggap sebagai masalah nutrisi ternyata berakar pada karakteristik fisik pakan, termasuk kelembapannya.

Peternak sering mengeluhkan:

  • Sapi memilih pakan tertentu
  • Konsumsi pakan tidak stabil
  • Palungan cepat kosong
  • Sisa pakan meningkat
  • Pertumbuhan tidak sesuai target

Namun sangat sedikit yang pernah bertanya:

Berapa sebenarnya kadar air ransum yang diberikan hari ini?


Mengapa Kelembapan Penting?

Sapi tidak mengonsumsi angka protein.

Sapi tidak mengonsumsi angka energi.

Sapi mengonsumsi pakan dalam bentuk fisik.

Karena itu sifat fisik pakan menjadi sangat penting.

Kelembapan memengaruhi:

✅ Tekstur pakan

✅ Aroma pakan

✅ Homogenitas campuran

✅ Feed sorting

✅ Konsumsi bahan kering (Dry Matter Intake/DMI)

✅ Stabilitas pakan di palungan

Penelitian menunjukkan bahwa kadar bahan kering (dry matter concentration) berpengaruh terhadap perilaku sorting dan konsumsi nutrisi ternak.

Dengan kata lain:

Nutrisi terbaik tidak akan banyak membantu jika ternak tidak mengonsumsinya sesuai formulasi.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Di lapangan sering muncul pemikiran:

“Kalau pakan terlalu kering, tinggal ditambah air.”

Sekilas terdengar logis.

Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara air dan performa ternak jauh lebih kompleks.

Beberapa penelitian menemukan bahwa penambahan air pada TMR tertentu dapat mengurangi sorting.

Namun pada kondisi lain justru meningkatkan sorting, menurunkan konsumsi bahan kering, dan meningkatkan suhu pakan setelah diberikan di palungan.

Artinya:

Menambah air bukan selalu solusi.

Yang penting adalah memahami kondisi ransum yang digunakan.


Ketika Ransum Terlalu Kering

Ransum yang terlalu kering biasanya memiliki ciri:

  • Debu tinggi
  • Partikel mudah terpisah
  • Konsentrat mudah mengendap
  • Hijauan mudah tertinggal

Dalam kondisi ini sapi lebih mudah melakukan feed sorting.

Mereka cenderung memilih partikel yang lebih disukai dan meninggalkan partikel lainnya.

Akibatnya nutrisi yang dikonsumsi berbeda dari nutrisi yang diformulasikan.

Fenomena ini merupakan salah satu alasan mengapa performa ternak sering tidak sesuai dengan perhitungan formulasi pakan.


Ketika Ransum Terlalu Basah

Sebaliknya, terlalu banyak air juga dapat menjadi masalah.

Penelitian DeVries dan kolega menunjukkan bahwa penambahan air berlebih pada TMR dengan kadar air yang sudah tinggi dapat:

  • Meningkatkan suhu pakan
  • Menurunkan DMI
  • Meningkatkan sorting pada kondisi tertentu

Terutama ketika suhu lingkungan meningkat.

Di lapangan kondisi ini sering terlihat sebagai:

⚠ Pakan cepat panas

⚠ Muncul aroma tidak normal

⚠ Konsumsi pakan menurun

⚠ Sisa pakan meningkat

⚠ Palungan lebih cepat kotor

Pada daerah tropis seperti Indonesia, risiko ini menjadi semakin penting karena suhu lingkungan relatif tinggi sepanjang tahun.


Kadar Air Bahan Pakan yang Umum Digunakan di Indonesia

Salah satu sumber kesalahan terbesar adalah menganggap semua bahan pakan memiliki kadar air yang sama.

Padahal perbedaannya sangat besar.

Bahan PakanBahan Kering (DM)Kadar Air
Rumput gajah segar15–25%75–85%
Rumput odot10–20%80–90%
Silase jagung30–40%60–70%
Silase rumput25–35%65–75%
Ampas tahu segar15–25%75–85%
Dedak padi88–92%8–12%
Bungkil kedelai88–92%8–12%
Bungkil inti sawit90–95%5–10%

Mari lihat contoh sederhana.

Jika peternak memberikan:

100 kg rumput gajah dengan DM 20%

maka yang sebenarnya dikonsumsi ternak adalah:

  • 20 kg bahan kering
  • 80 kg air

Inilah alasan mengapa nutrisionis selalu berbicara dalam basis bahan kering (dry matter basis).


Cara Mengukur Bahan Kering Tanpa Laboratorium

Salah satu alasan kelembapan jarang diperhatikan adalah karena peternak menganggap pengukurannya sulit.

Padahal ada beberapa metode sederhana.

1. Metode Oven

Langkah:

  1. Timbang 100 gram sampel.
  2. Oven 105°C selama 24 jam.
  3. Timbang kembali.

Rumus:

DM (%) = Berat Kering ÷ Berat Awal × 100

Contoh:

100 gram → 23 gram

DM = 23%

Air = 77%

Metode ini menjadi standar dalam banyak pengukuran nutrisi pakan.


2. Metode Microwave

Beberapa layanan penyuluhan peternakan di Amerika Utara menggunakan microwave sebagai metode cepat untuk estimasi bahan kering pakan di lapangan. Hasilnya memang tidak setepat laboratorium, tetapi cukup berguna untuk monitoring rutin.


3. Metode Air Fryer

Untuk peternak kecil, air fryer dapat digunakan sebagai alternatif praktis.

Yang paling penting bukan akurasi absolut.

Yang paling penting adalah konsistensi metode yang digunakan dari waktu ke waktu.


Kasus yang Sering Terjadi di Indonesia

Bayangkan situasi berikut.

Pagi hari peternak memanen rumput gajah.

Rumput ditumpuk di lapangan.

Baru diberikan pada sore hari.

Peternak merasa:

“Saya memberikan jumlah rumput yang sama seperti kemarin.”

Namun kenyataannya belum tentu sama.

Selama beberapa jam di bawah sinar matahari:

  • Air menguap
  • Berat segar berubah
  • Kandungan bahan kering meningkat

Pada musim hujan situasinya bisa berbeda lagi.

Rumput yang dipanen pada musim hujan umumnya mengandung air lebih tinggi dibanding musim kemarau.

Akibatnya:

Jumlah hijauan yang sama belum tentu mengandung nutrisi yang sama.


Hubungan Kelembapan dan Feed Sorting

Pada artikel sebelumnya kita membahas panjang cacahan hijauan.

Namun ukuran partikel bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi sorting.

Kelembapan juga berperan besar.

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku sorting dipengaruhi oleh:

  • Ukuran partikel
  • Komposisi ransum
  • Kadar bahan kering
  • Strategi pemberian pakan

Perubahan kadar bahan kering dapat mengubah pola konsumsi partikel panjang, sedang, maupun halus.

Karena itu:

Panjang cacahan yang ideal belum tentu menghasilkan konsumsi yang ideal jika kelembapan ransumnya bermasalah.


Berapa Kerugian Jika DMI Turun Sedikit Saja?

Penurunan konsumsi sering tidak terlihat.

Mari gunakan simulasi sederhana.

Misal:

  • 100 ekor sapi
  • Penurunan DMI = 0,5 kg/ekor/hari
  • Lama penggemukan = 100 hari

Total kehilangan konsumsi:

0,5 × 100 × 100

= 5.000 kg bahan kering

Jika penurunan konsumsi tersebut menyebabkan ADG turun hanya:

0,05 kg/hari

Maka dalam 100 hari:

0,05 × 100 × 100

= 500 kg bobot hidup

Nilai sebenarnya akan berbeda pada setiap peternakan.

Namun contoh ini menunjukkan bahwa perubahan kecil pada konsumsi dapat menghasilkan dampak ekonomi yang besar.


Apa yang Bisa Dilakukan Peternak Mulai Besok?

Mulailah dengan pertanyaan sederhana.

Bukan:

Berapa persen protein pakan saya?

Tetapi:

Berapa persen bahan kering pakan saya hari ini?

Perhatikan:

✅ Apakah pakan terlalu berdebu?

✅ Apakah sapi melakukan sorting?

✅ Apakah pakan cepat panas?

✅ Apakah ada perubahan musim?

✅ Apakah kadar air bahan baku berubah?

Karena sering kali masalah performa tidak berasal dari formulasi.

Masalahnya berasal dari bagaimana pakan tersebut dikonsumsi.


Insight Entelemi

Banyak peternak mengetahui kadar protein hingga dua angka di belakang koma.

Tetapi tidak mengetahui berapa persen bahan kering yang benar-benar masuk ke dalam tubuh ternaknya.

Padahal hampir seluruh sistem nutrisi modern dibangun di atas konsep bahan kering.

“Jika protein menentukan kualitas nutrisi, maka bahan kering menentukan berapa banyak nutrisi yang benar-benar dikonsumsi ternak.”

— Oegeng Entelemi


Kesimpulan

Kelembapan ransum merupakan faktor yang sering diabaikan tetapi memiliki dampak besar terhadap:

  • Feed sorting
  • Konsumsi bahan kering (DMI)
  • Stabilitas campuran pakan
  • Kesehatan rumen
  • Performa ternak

Ransum yang terlalu kering dapat meningkatkan sorting.

Ransum yang terlalu basah dapat menurunkan konsumsi dan mempercepat pemanasan pakan.

Karena itu manajemen kelembapan bukan sekadar menambah atau mengurangi air.

Tujuannya adalah menjaga konsistensi nutrisi yang benar-benar masuk ke dalam rumen.


Daftar Pustaka

Fish, J.A., & DeVries, T.J. (2012). Varying Dietary Dry Matter Concentration Through Water Addition: Effect on Nutrient Intake and Sorting of Dairy Cows in Late Lactation. Journal of Dairy Science.

Miller-Cushon, E.K., & DeVries, T.J. (2009). Effect of Dietary Dry Matter Concentration on the Sorting Behavior of Lactating Dairy Cows Fed a Total Mixed Ration. Journal of Dairy Science.

DeVries, T.J. (2017). Feed Sorting in Dairy Cattle: Causes, Consequences, and Management. Journal of Dairy Science.

Felton, C.A., & DeVries, T.J. (2010). Effect of Water Addition to a Total Mixed Ration on Feed Temperature, Feed Intake, Sorting Behavior, and Milk Production of Dairy Cows. Journal of Dairy Science.

DeVries, T.J., & Gill, R.M. (2012). Adding Liquid Feed to a Total Mixed Ration Reduces Feed Sorting Behavior and Improves Productivity of Lactating Dairy Cows. Journal of Dairy Science.

One response to “Kelembapan Ransum: Faktor yang Sering Tidak Pernah Diukur”

  1. […] Bagian 4 — Kelembapan Ransum: Faktor yang Sering Tidak Pernah Diukur […]

Tinggalkan Balasan

Saya Oegeng Entelemi

Selamat datang di Entelemi.com

Ini adalah ruang digital tempat strategi manajemen bertemu dengan realita lapangan. Di sini, saya berbagi perspektif tentang membangun sistem peternakan yang berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan seni kepemimpinan yang membumi.

Mari berdiskusi, berpikir strategis, dan bertumbuh bersama

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Edukasi - Pertanian & Peternakan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca